Pemanis Buatan, Tak Akan Bikin Gemuk?

Kompas.com - 29/08/2009, 10:37 WIB

KOMPAS.com - Rasanya hampir semua makanan mengandung gula, termasuk juga karbohidrat utama seperti nasi, roti, atau mi. Belum lagi buah-buahan dan makanan kecil lainnya. Padahal, terlalu banyak gula bisa menyebabkan kelebihan berat badan dan penyakit.

Karena itulah, agar tetap bisa menikmati makanan favorit tanpa khawatir kelebiha kalori, kini makin banyak orang berpaling pada pemanis buatan, yang disebut juga sebagai gula rendah kalori.

Dalam situs kesehatan mayoclinic disebutkan bahwa pemanis buatan adalah senyawa kimia yang ditambahkan atau digunakan untuk keperluan olahan pangan, industri, atau makanan dan minuman.

Pada awalnya pemanis buatan digunakan oleh para penderita diabetes atau obesitas untuk mengontrol jumlah kalori dalam makanan dan penurunan berat badan. Dengan pemanis buatan, penderita diabetes tetap bisa menikmati rasa manis tanpa khawatir gula darahnya naik.

Tetapi, beberapa makanan yang diberi label bebas gula (sugar free) biasanya juga mengandung pemanis, seperti sorbito atau mannitol, yang mengandung kalori dan bisa memengaruhi kadar gula darah.

Lagi pula, menghilangkan gula dari makanan atau minuman tidak otomatis membuatnya jadi lebih rendah kalori atau rendah lemak. Bila kita mengonsumsi makanan, meski diberi pemanis buatan, terlalu banyak, tetap saja kalorinya akan lebih banyak dari yang kita butuhkan.

Amankah?
Di Indonesia ada 13 jenis pemanis buatan yang diizinkan penggunaannya dalam produk-produk pangan, yakni aspartam, acesulfam-K, alitam, neotam, siklamat, sakarin, sukralosa, dan isomalt, serta 5 lagi yang termasuk dalam kelompok poliol, yaitu xilitol, maltitol, manitol, sorbitol, dan laktitol.

Meskipun pemanis buatan memiliki kadar kalori lebih rendah, bukan berarti kita bisa mengonsumsinya secara bebas. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan nilai ADI (acceptable daily intake).

ADI diartikan sebagai jumlah maksimum senyawa kimia yang bisa dikonsumsi setiap hari secara terus menerus tanpa menimbulkan gangguan pada kesehatan. Siklamat pada manusia mempunyai nilai ADI maksimum 11 mg/kg berat badan.

Pemanis buatan sering disebut-sebut bisa memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker. Menurut the National Cancer Institute, sebenarnya belum ada bukti ilmiah mengenai kaitan antara kanker dan pemanis buatan. Beberapa penelitian juga menunjukkan pemanis buatan aman untuk populasi umum.

Meski demikian, di banyak negara pemanis buatan seperti siklamat dan sakarin sudah mulai dikurangi penggunaannya karena keamanannya dianggap meragukan. Sebagian ahli juga berpendapat pemanis buatan hanya boleh dikonsumsi orang yang sedang diet gula atau penderita diabetes. Sedangkan orang sehat disarankan untuk mengonsumsi gula biasa.

Bila Anda khawatir makanan yang dikonsumsi mengandung pemanis buatan, ada beberapa ciri dari produk yang menggunakan pemanis buatan, yaitu: makanan/minuman yang diberi pemanis buatan mempunyai rasa pahit ikutan (after taste), terutama sakarin. Selain itu, minuman yang diberi pemanis buatan lebih encer dibandingkan dengan minuman yang menggunakan gula.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau